di dieu yeuuhhhh...!!!!

kunamaibintangitunamamu:

Semua ini, hanya demi;
Seseorang—satu orang yang sampai hari ini tempatnya tidak pernah bergeser sedikitpun di sini (baca:hati). Kamu mungkin pergi hari itu, tetapi kamu meninggalkan kepadaku hal yang tidak akan pernah kumiliki lagi: KENANGAN.
Hari itu aku belajar memaafkan, aku memaafkan diriku sendiri dan dirimu juga. Hari itu aku belajar melepaskan, karena barangkali aku memang tidak diperbolehkan lagi untuk memiliki kamu.
So, take care and goodbye!
#nowplaying: Mr. Big-Wild World

kunamaibintangitunamamu:

Semua ini, hanya demi;

Seseorang—satu orang yang sampai hari ini tempatnya tidak pernah bergeser sedikitpun di sini (baca:hati). Kamu mungkin pergi hari itu, tetapi kamu meninggalkan kepadaku hal yang tidak akan pernah kumiliki lagi: KENANGAN.

Hari itu aku belajar memaafkan, aku memaafkan diriku sendiri dan dirimu juga. Hari itu aku belajar melepaskan, karena barangkali aku memang tidak diperbolehkan lagi untuk memiliki kamu.

So, take care and goodbye!

#nowplaying: Mr. Big-Wild World

“Sebenarnya semua orang rumit, Allah Maha Hebat bisa paham semuanya.”

Nydya Parahita

(via kurniawangunadi)

(via sebelasbintang)

“Salah berjamaah mungkin berbeda 2-3 menit dari salat sendiri. Tapi pahalanya jauh berlipat ganda dari salat sendiri. Lalu, kenapa pingin salat sendiri agar bisa lebih cepat?”
— Urusan dunia itu cuman sesaat, santai aja kali. (via choqi-isyraqi)
kidsneedscience:

By now you have probably heard of the impending Nutella crisis, as a tough season has lowered crop yields of hazelnuts and filberts have sent nut prices soaring.  Hazelnuts and filberts have been known and cultivated for almost 10,000 years.  Although the names hazelnut and filbert have been used synonymously, they are different nuts.  There are around 14-18 species in the Corylus family (from the Latin word for hazel, corylus).  The filbert takes its name from the 7th century French Saint Philibert of Jumieges, whose saint day is August 20th, for the time the nut ripened in England.  

kidsneedscience:

By now you have probably heard of the impending Nutella crisis, as a tough season has lowered crop yields of hazelnuts and filberts have sent nut prices soaring.  Hazelnuts and filberts have been known and cultivated for almost 10,000 years.  Although the names hazelnut and filbert have been used synonymously, they are different nuts.  There are around 14-18 species in the Corylus family (from the Latin word for hazel, corylus).  The filbert takes its name from the 7th century French Saint Philibert of Jumieges, whose saint day is August 20th, for the time the nut ripened in England.  

(via acabaca)

allthingseurope:

Twente, Netherlands (by serni)

aaah iuh kieu

allthingseurope:

Twente, Netherlands (by serni)

aaah iuh kieu

komikazer:

di tag sama @_thepopo  jadi simon harus anu tentang simon… sebenernyah sih simon orangnya pemalu, tapi kata azer cuek ajah, gak bakal di post di instagram juga katanya…#20factsaboutme    1. suka banget gadoin sisaan kopi bekas sekuriti komplek… 2. kalo masuk ke ATM lepas sepatu (biar sopan) 3. gak suka asep rokok…  lebih suka abu rokok…  enak, kayak sagon… 4. waktu kecil cita-citanya jadi brownies amanda… 5. kalo tidur suka lupa nutup mata… 6. kalo berak di WC jongkok sukanya duduk… 7. kalo berak di WC duduk tengkurep… 8. suka lagu barat kayak brintey spears, 711, circle K, alfamart, rexona, dll… 9. Doyan ngemilin encu… 10. Pernah sekali hampir ciuman.. Sama tembok… tapi temboknya nolak… digampar pula… 11. Paling gak bisa hidup kalo gak nafas… 12. jago spake englihs, simon chan spakes engslih vreyr goad. 13. pernah punya pacar sekali.. di harvest moon…  14. suka nitipin upil ke hidung orang lain…  15. Kalo naek angkot sukanya duduk didepan. Depan supir.. (dipangku sama supir) 16. suka lupa nurunin kaki di lampu merah kalo naik motor.. 17. kalo makan telor sama kulit-kulitnya… kadang sama abang-abangnya… 18. hobi fitnes… pake portal komplek… di naik turunin… 19. waktu sekolah ikut PASKIBRAKA, jadi bendera… 20. Suka nyanyi keras-keras sambil mandi… di dalem lift.

wkwkwkwwk anjeeeeeeerrr …aaah kenapa harus ada yg nongol sih tuh aaah….kzl

komikazer:

di tag sama @_thepopo
jadi simon harus anu tentang simon… sebenernyah sih simon orangnya pemalu, tapi kata azer cuek ajah, gak bakal di post di instagram juga katanya…#20factsaboutme
 
1. suka banget gadoin sisaan kopi bekas sekuriti komplek…
2. kalo masuk ke ATM lepas sepatu (biar sopan)
3. gak suka asep rokok…
lebih suka abu rokok…
enak, kayak sagon…
4. waktu kecil cita-citanya jadi brownies amanda…
5. kalo tidur suka lupa nutup mata…
6. kalo berak di WC jongkok sukanya duduk…
7. kalo berak di WC duduk tengkurep…
8. suka lagu barat kayak brintey spears, 711, circle K, alfamart, rexona, dll…
9. Doyan ngemilin encu…
10. Pernah sekali hampir ciuman.. Sama tembok… tapi temboknya nolak… digampar pula…
11. Paling gak bisa hidup kalo gak nafas…
12. jago spake englihs, simon chan spakes engslih vreyr goad.
13. pernah punya pacar sekali.. di harvest moon…
14. suka nitipin upil ke hidung orang lain… 
15. Kalo naek angkot sukanya duduk didepan. Depan supir.. (dipangku sama supir)
16. suka lupa nurunin kaki di lampu merah kalo naik motor..
17. kalo makan telor sama kulit-kulitnya… kadang sama abang-abangnya…
18. hobi fitnes… pake portal komplek… di naik turunin…
19. waktu sekolah ikut PASKIBRAKA, jadi bendera…
20. Suka nyanyi keras-keras sambil mandi… di dalem lift.

wkwkwkwwk anjeeeeeeerrr …aaah kenapa harus ada yg nongol sih tuh aaah….kzl

reacaraksa:

Four reasons why you should watch Pengantar Minum Racun:

  • This is a history class for the millennial generation: Pengantar Minum Racun is the pioneer. Together with Pancaran Sinar Petromak, they plunged fresh comedy into Dangdut and stage performance. After PMR, younger successors Pemuda Harapan Bangsa and other bands continue the legacy.
  • This, was truthfully the first time i see a man could play harmonica using an effing comb, hitting the right notes. It was dead funny, didn’t even look like a joke anymore. No, you can’t do that easily. Only Johnny Iskandar. Believe me
  • A normal evening in Borneo Beerhouse is full of “metalzone” and testosterone, but this was different. Pure fun; inked men and loyal fans were “conquered” by dangdut music, dancing voluntarily to the irresistible beat and super catchy lyrics. I could say the most fun gig in the venue, so far
  • The gig was so fun people begged them to play more and they played “judul-judulan” twice.

Johnny Iskandar, ladies and gentleman, favorite living legend :)) ever once thinking about seeing his gig live, maybe someday ! coba itu acara-acara kampus jangan ngundang yang hits masakini doang, coba yang diundang yang hits sepanjang masa gituuu

huffingtonpost:

Know Your Veils: A Guide to Middle Eastern Head Coverings (PHOTOS)

Next time you are having dinner with a Bahraini dignitary, don’t embarrass yourself by confusing the Queen’s abaya with a burqa.

Simply read our full guide with the full explanations behind every Islamic veil here. 

(via acabaca)

fullcravings:

Skinny Bananas Foster Crepes

ya ampuuuun wayah ginih dibere gambar nu kiyeeuuu

fullcravings:

Skinny Bananas Foster Crepes

ya ampuuuun wayah ginih dibere gambar nu kiyeeuuu

(via justbesplendid)

“I struggle with wanting you all the time, so please don’t mistake my silence for indifference. It’s just I have to hold myself back because I feel too much. Too often. Too wildly out of my control.”
Tina Tran, My words don’t say much at all  (via enjoui)

(via justbesplendid)

“I read; I travel; I become.”
— Derek Walcott (via h-o-r-n-g-r-y)

(via acabaca)

“Do I contradict myself?
Very well then I contradict myself,
I am large, I contain multitudes.”
— Walt Whitman (via awelltraveledwoman)

(Source: alexanderguns, via awelltraveledwoman)

“Think 100 times before you take a decision,but once that decision is taken,stand by it as one man.”
— ― Quaid-e-Azam Mohammad Ali Jinnah (via psych-quotes)

(via acabaca)

academicus:

Selama sepuluh tahun, beliau telah banyak mengubah Indonesia.
Menyimak Pidato Kenegaraannya di DPR yang terakhir seperti melihatnya melambaikan tangan, mengucapkan salam perpisahan. Mengingatkan tentang perjalanan panjang bangsa kita. Bahwa kita sebagai bangsa telah jauh berjalan bersama, bergandengan tangan, berjuang menjadi bangsa yang lebih sejahtera.

"Dari bangsa yang sewaktu merdeka sebagian besar penduduknya buta huruf, rakyat Indonesia kini mempunyai sistem pendidikan yang kuat dan luas, yang mencakup lebih dari 200 ribu sekolah, 3 juta guru, dan 50 juta siswa.
Dari bangsa yang tadinya terbelakang di Asia, Indonesia telah naik menjadi middle-income country, menempati posisi ekonomi ke-16 terbesar di dunia, dan bahkan menurut Bank Dunia telah masuk dalam 10 besar ekonomi dunia jika dihitung dari Purchasing Power Parity.
Dari bangsa yang seluruh penduduknya miskin di tahun 1945, Indonesia di abad ke-21 mempunyai kelas menengah terbesar di Asia Tenggara, dan salah satu negara dengan pertumbuhan kelas menengah tercepat di Asia
Dari bangsa yang jatuh bangun diterpa badai politik dan ekonomi, kita telah berhasil mengonsolidasikan diri menjadi demokrasi ke-3 terbesar di dunia”

Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa semua stabilitas dan perkembangan ekonomi negara kita adalah “kejadian alami”, yang terjadi karena hasil jerih payah rakyat sendiri.
“Ya itu kan memang karena Indonesia lagi punya bonus demografi”
“Ini memang karena kelas ekonomi menengah kita sedang kuat”
“Ini karena rakyat memperjuangkan perubahannya sendiri, bukan karena pemerintahan SBY”
Buat saya, pendapat seperti ini adalah pendapat pecundang. Mereka terlalu sombong untuk membuka mata dan menerima fakta, bahwa kita bisa mendapatkan semuanya karena kita berjalan bersama, dan kita berjalan di bawah pemerintahan SBY.
Tidak adil jika kita menyalahkan SBY atas semua kegagalan pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu, tetapi tidak memberikan apresiasi sama sekali ketika di bawah kabinet yang sama, terdapat begitu banyak prestasi.
Dan sungguh tidak adil jika kita membandingkan Indonesia dengan Amerika, Eropa, Korea, atau negara lainnya. Indonesia terlalu luas, terlalu besar, dan terlalu beragam untuk disamakan dengan negara manapun di dunia. Menjadi pemimpin sebuah negara dengan ribuan pulau, ribuan suku, ribuan bahasa, dan milyaran pemikiran yang tersebar dalam jutaan kepala adalah sebuah beban yang teramat besar, terlalu besar.

"Menjadi Presiden dalam lanskap politik dimana semua pemimpin mempunyai mandat sendiri, dalam demokrasi 240 juta, adalah suatu proses belajar yang tidak akan pernah ada habisnya"

Dan dia tetap memilih berani berdiri di sana, atas memimpin kita bertumbuh bersama.

"Setelah hampir 7 dekade merdeka, Indonesia di abad ke-21 terus tumbuh menjadi bangsa yang semakin bersatu, semakin damai, semakin makmur, dan semakin demokratis"

Saya mungkin bukan ahli politik, saya bisa jadi tidak mengerti sosial-ekonomi, dan saya barangkali tidak tahu banyak soal tata negara.
Tapi saya tahu pasti menjadi presiden bukanlah perkara mudah.
Saya sadar betul memimpin Indonesia bukan pekerjaan sederhana.
Saya semakin memahami bahwa presiden tak sepantasnya dengan mudah dicaci-maki, dibilang lamban, dicap tolol, diteriaki boneka asing, dan dijadikan lelucon.
Jika memang ia mengkhianati kita sebagai bangsa, saya tidak pasti tahu akan hal itu, sebagaimana Anda pun demikian. Jika memang SBY menjual negara kepada asing atas niatan berkhianat, saya pun tidak melihat dengan mata kepala saya sendiri akan hal itu, sebagaimana Anda pun demikian. Yang tahu pasti akan semua pengkhianatan itu, hanya dia dan Tuhan.
Tapi saya tahu pasti Pak SBY kurang tidur karena memikirkan Indonesia. Terlihat jelas lelah dan semua beban itu di kantung matanya.
Saya percaya Pak SBY mengusahakan perdamaian di negeri ini dengan seksama, agar bangsa kita yang begitu beragam agamanya, begitu berwarna keyakinannya, tidak saling mengadu dan tetap bisa bersatu.

"Dalam sepuluh tahun terakhir, saya telah mencoba mendedikasikan seluruh jiwa dan raga untuk Indonesia. Terlepas dari berbagai cobaan, krisis dan tantangan yang saya alami, tidak pernah ada satu menit pun saya merasa pesimis terhadap masa depan Indonesia. Dan tidak pernah satu menit pun saya merasa tergoda untuk melanggar sumpah jabatan dan amanah rakyat saya sebagai Presiden"

Dan dengan semua perjalanan panjang itu, Pak SBY dengan rendah hati meminta maaf secara terbuka.

"Merupakan kehormatan besar bagi saya menjadi Presiden Republik Indonesia. Saya adalah anak orang biasa, dan anak biasa dari Pacitan, yang kemudian menjadi tentara, menteri, dan kemudian dipilih sejarah untuk memimpin bangsa Indonesia. 
Tentunya dalam sepuluh tahun, saya banyak membuat kesalahan dan kekhilafan dalam melaksanakan tugas. Dari lubuk hati yang terdalam, saya meminta maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan. Meskipun saya ingin selalu berbuat yang terbaik, tetaplah saya manusia biasa”

Memikirkan ini semua, saya jadi membayangkan suatu saat nanti ketika saya punya kesempatan bertemu dengan beliau, apa yang akan saya katakan.
Saya teringat berapa banyak saya ikut mencaci beliau dan menjadikannya bahan lelucon, dan betapa sedikitnya saya mengapresiasi dan berusaha benar-benar memahami beban beratnya sebagai pemimpin bangsa Indonesia.
 
Saya mungkin tidak akan berbicara banyak.
Saya akan menjabat tangannya erat, menatap matanya lekat, dan memeluknya dengan hangat.
Saya hanya ingin meminta maaf dan berterima kasih.

academicus:

Selama sepuluh tahun, beliau telah banyak mengubah Indonesia.

Menyimak Pidato Kenegaraannya di DPR yang terakhir seperti melihatnya melambaikan tangan, mengucapkan salam perpisahan. Mengingatkan tentang perjalanan panjang bangsa kita. Bahwa kita sebagai bangsa telah jauh berjalan bersama, bergandengan tangan, berjuang menjadi bangsa yang lebih sejahtera.

"Dari bangsa yang sewaktu merdeka sebagian besar penduduknya buta huruf, rakyat Indonesia kini mempunyai sistem pendidikan yang kuat dan luas, yang mencakup lebih dari 200 ribu sekolah, 3 juta guru, dan 50 juta siswa.

Dari bangsa yang tadinya terbelakang di Asia, Indonesia telah naik menjadi middle-income country, menempati posisi ekonomi ke-16 terbesar di dunia, dan bahkan menurut Bank Dunia telah masuk dalam 10 besar ekonomi dunia jika dihitung dari Purchasing Power Parity.

Dari bangsa yang seluruh penduduknya miskin di tahun 1945, Indonesia di abad ke-21 mempunyai kelas menengah terbesar di Asia Tenggara, dan salah satu negara dengan pertumbuhan kelas menengah tercepat di Asia

Dari bangsa yang jatuh bangun diterpa badai politik dan ekonomi, kita telah berhasil mengonsolidasikan diri menjadi demokrasi ke-3 terbesar di dunia”

Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa semua stabilitas dan perkembangan ekonomi negara kita adalah “kejadian alami”, yang terjadi karena hasil jerih payah rakyat sendiri.

“Ya itu kan memang karena Indonesia lagi punya bonus demografi

“Ini memang karena kelas ekonomi menengah kita sedang kuat”

“Ini karena rakyat memperjuangkan perubahannya sendiri, bukan karena pemerintahan SBY”

Buat saya, pendapat seperti ini adalah pendapat pecundang. Mereka terlalu sombong untuk membuka mata dan menerima fakta, bahwa kita bisa mendapatkan semuanya karena kita berjalan bersama, dan kita berjalan di bawah pemerintahan SBY.

Tidak adil jika kita menyalahkan SBY atas semua kegagalan pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu, tetapi tidak memberikan apresiasi sama sekali ketika di bawah kabinet yang sama, terdapat begitu banyak prestasi.

Dan sungguh tidak adil jika kita membandingkan Indonesia dengan Amerika, Eropa, Korea, atau negara lainnya. Indonesia terlalu luas, terlalu besar, dan terlalu beragam untuk disamakan dengan negara manapun di dunia. Menjadi pemimpin sebuah negara dengan ribuan pulau, ribuan suku, ribuan bahasa, dan milyaran pemikiran yang tersebar dalam jutaan kepala adalah sebuah beban yang teramat besar, terlalu besar.

"Menjadi Presiden dalam lanskap politik dimana semua pemimpin mempunyai mandat sendiri, dalam demokrasi 240 juta, adalah suatu proses belajar yang tidak akan pernah ada habisnya"

Dan dia tetap memilih berani berdiri di sana, atas memimpin kita bertumbuh bersama.

"Setelah hampir 7 dekade merdeka, Indonesia di abad ke-21 terus tumbuh menjadi bangsa yang semakin bersatu, semakin damai, semakin makmur, dan semakin demokratis"

Saya mungkin bukan ahli politik, saya bisa jadi tidak mengerti sosial-ekonomi, dan saya barangkali tidak tahu banyak soal tata negara.

Tapi saya tahu pasti menjadi presiden bukanlah perkara mudah.

Saya sadar betul memimpin Indonesia bukan pekerjaan sederhana.

Saya semakin memahami bahwa presiden tak sepantasnya dengan mudah dicaci-maki, dibilang lamban, dicap tolol, diteriaki boneka asing, dan dijadikan lelucon.

Jika memang ia mengkhianati kita sebagai bangsa, saya tidak pasti tahu akan hal itu, sebagaimana Anda pun demikian. Jika memang SBY menjual negara kepada asing atas niatan berkhianat, saya pun tidak melihat dengan mata kepala saya sendiri akan hal itu, sebagaimana Anda pun demikian. Yang tahu pasti akan semua pengkhianatan itu, hanya dia dan Tuhan.

Tapi saya tahu pasti Pak SBY kurang tidur karena memikirkan Indonesia. Terlihat jelas lelah dan semua beban itu di kantung matanya.

Saya percaya Pak SBY mengusahakan perdamaian di negeri ini dengan seksama, agar bangsa kita yang begitu beragam agamanya, begitu berwarna keyakinannya, tidak saling mengadu dan tetap bisa bersatu.

"Dalam sepuluh tahun terakhir, saya telah mencoba mendedikasikan seluruh jiwa dan raga untuk Indonesia. Terlepas dari berbagai cobaan, krisis dan tantangan yang saya alami, tidak pernah ada satu menit pun saya merasa pesimis terhadap masa depan Indonesia. Dan tidak pernah satu menit pun saya merasa tergoda untuk melanggar sumpah jabatan dan amanah rakyat saya sebagai Presiden"

Dan dengan semua perjalanan panjang itu, Pak SBY dengan rendah hati meminta maaf secara terbuka.

"Merupakan kehormatan besar bagi saya menjadi Presiden Republik Indonesia. Saya adalah anak orang biasa, dan anak biasa dari Pacitan, yang kemudian menjadi tentara, menteri, dan kemudian dipilih sejarah untuk memimpin bangsa Indonesia.

Tentunya dalam sepuluh tahun, saya banyak membuat kesalahan dan kekhilafan dalam melaksanakan tugas. Dari lubuk hati yang terdalam, saya meminta maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan. Meskipun saya ingin selalu berbuat yang terbaik, tetaplah saya manusia biasa”

Memikirkan ini semua, saya jadi membayangkan suatu saat nanti ketika saya punya kesempatan bertemu dengan beliau, apa yang akan saya katakan.

Saya teringat berapa banyak saya ikut mencaci beliau dan menjadikannya bahan lelucon, dan betapa sedikitnya saya mengapresiasi dan berusaha benar-benar memahami beban beratnya sebagai pemimpin bangsa Indonesia.

 

Saya mungkin tidak akan berbicara banyak.

Saya akan menjabat tangannya erat, menatap matanya lekat, dan memeluknya dengan hangat.

Saya hanya ingin meminta maaf dan berterima kasih.

(via ilmalerina)